Feeds RSS

Senin, 02 April 2012

Seperti ini, duduk sendiri dan mulai mengetik sesuatu. Berarti ada yang tidak beres dalam hati saat ini. Saat perasaan yang dulu mulai berkecamuk lagi dan lagi dalam hati dan fikiran seakan berputar dan enggan untuk pergi memberikan sedikit kebahagiaan dalam diri. Saat selesai kuketik sesuatu tanpa judul ini ingin rasanya merasakan hati yang lega seaakan terlepas dari belenggu ikatan tambang yang menggantung di langit-langit kamar. Tidak, bukan bunuh diri.. hanya seperti perasaan yang sakit dan sesak seakan susah untuk kembali lega tanpa ada perasaan memendam sesuatu. Selalu kupikirkan jika kebahagiaan bisa diganti dengan kesakitan selama ini, mungkin kini aku bisa menjadi orang ter-bahagia di dunia. Iya, kau semua bisa menilai ini semua dan bisa mengartikan apa sebenarnya. Tak'ada lagi mereka-mereka yang pantas untuk ku ceritakan, bukan aku tak mau.. rasanya terlalu malu untuk terus bercerita mungkin sedikit mengeluh tentang diriku, padahal mereka adalah orang-orang yang setidaknya punya pengalaman hidup yang lebih indah dariku. Dalam sebuah buku yang kini sedang proses dalam bagian pembelajaranku tentang "membaca wajah" banyak sesuatu yang menggambarkan tulisan, dengan kenyataanku yang sama. Apa kalian tau apa? banyak kesakitan, keputusasaan dan merasa tidak bahagia. Sejujurnya aku syukuri itu sebagai nikmat, karena keyakinan menuntunku bahwa jika tidak kita nikmati kita tak pantas mendapat kebahagiaan kelak. Tak pelak ketika masa lalu datang kembali menyapa tenangnya suasana yang seketika bisa menghancurkan segalanya dengan hitungan detik saja. Perlakuan seseorang yang kuanggap tetap tak'ada perubahan dan semakin membuat diri ini semakin jatuh dan mencaci dirinya sendiri..terkadang ingin rasanya marah pada tuhan, ingin rasanya berteriak "kutuklah aku jika aku memang tidak ditakdirkan bahagia olehmu! untuk apa aku hidup dengan segala yang aku rasakan kini.." tapi aku tidak bisa marah pada tuhan dan menyalahkan ini semua. Jika ada yang melihatku berkata layaknya seorang pujangga memberikan nasihat, jangan anggap bahwa itu adalah baik-baik saja. Kuberikan sedikit nasihat agar hidupmu jauh dari yang namanya kesakitan, tapi yang terpenting adalah aku menutupi perasaan diriku dengan cara seperti itu agar aku kuat, agar aku tetap sabar. Lantas aku berfirkir, ketika kuteruskan untuk bersabar aku artikan sabar itu berawal dari tunas yang memunculkan akarnya dan tumbuh menjadi batang kecil hingga batang yang besar, seketika semakin angin mengencang, batang semakin tua dan batang itupun harus rela untuk runtuh dan terpisah dari akarnya. Jangan sampai aku runtuh dengan ego-ku sendiri, terkecuali mereka-mereka diluar sana dan beberapa orang yang aku khususkan bisa memberikan aku sedikit harapan untuk merasakan bahagia.. bahagia itu simpel, mudah didapat, tapi mahal harganya bagiku..

0 komentar:

Posting Komentar