Feeds RSS

Kamis, 04 Oktober 2012

Ketika sayap sang Garuda melemah

Kembali menulis dengan unek-unek yang memprihatinkan..bukan, bukan masalah sama si doi, tapi tentang bangsa kita ini #sadaaaaaaap..

Jadi memang tiada hari tanpa cerita, dan tiada hari tanpa pembelajaran. Semenjak kembali memulai perkuliahan di semester ganjil dan semenjak bertemu kembali dengan para ibu dan bapak dosen, semakin jelas lah pengelihatan gue terhadap bangsa ini.

Kenapa gue membahas tentang bangsa kita ini? karena gue prihatin, masa ibu dosen gue bilang "negara kita ke 2 setelah myanmar, memang belum hancur sih.." jujur, parno. Ditambah saat bapak dosen gue cerita tentang penghasilan dari freeport yang ternyata setelah gue googling pendapatannya mencapai 2,3 miliar dolar AS, tapi apakah itu bisa menguntungkan kita semua jika ternyata hanya sekian puluh miliar yang dianggap "keuntungan" kita?. Pernah kalian lihat iklan pemerintah dari departemen pendidikan yang "katanya" negara ini memiliki biaya untuk pembangunan kembali sekolah yang rusak? mungkin bisa kalian lihat sendiri apa kenyataannya.

Satu hari gue pernah nonton acara di salah satu televisi swasta, acara itu membahas sisi lain dari berbagai aspek kehidupan di negeri ini. Jujur, gue cuma bisa istigfar ketika sang pembawa acara yang menggantikan guru di salah satu sekolah yang memang letaknya di pedalaman. Anak-anak didaerah tersebut bersekolah hanya 4 bulan sekali, dan ya kebetulan sang guru tersebut tidak bisa lagi hadir karena jarak yang memang sangat jauh dari perkotaan. Dan ketika gue terenyuh saat salah sang pembawa acara bertanya pada salah satu anak "Apakah kalian tahu ini siapa?" sambil menujukkan gambar sang presiden, si anak hanya bisa tersenyum senyum malu sambil berkata "Itu pak gubernur.." .

Janji seribu janji dari kalian wahai pemimpin bangsa ini, tapi adakah janji yang kalian tepati? adakah janji kalian yang sudah membuat kami sedikit bernafas lega tentang keadaan bangsa ini?. Mungkin kalian tahu tentang satu acara yang selalu mengangkat cerita kehidupan saudara kita yang memang untuk menikmati sesuap nasi saja harus berjuang menjual entah itu kayu bakar, menjadi kuli, atau apa saja yang menurut mereka halal. Satu yang berkesan dari sosok ibu dengan 3 anak itu "Walaupun kami miskin, kami berusaha tidak mempunyai hutang daripada kami tidak bisa membayarnya..".

Kehidupan memang berputar, tapi terkadang uang yang menguasai segalanya. Aturan dibuat untuk dilanggar itu memang benar, coba lihat peraturan di SPBU seluruh indonesia tentang larangan pembelian premium pada kendaraan yang bertanda khusus dan juga yang ber-plat merah, coba kalian lihat, ini apa?

                                                   Lah, iki piye? piye iki?

Negara kita banyak berubah kawan, berubah dari jaman Soekarno ke jaman SBY yang bisa kalian nilai sendiri seperti apa. Masa kepemimpinan soekarno yang dulu bisa mempengaruhi bangsa-bangsa lain, bahkan Arab sekalipun bisa setuju dengan pendapat beliau untuk menanamkan pohon disekitaran pondok jamaah haji. Untuk kepemimpinan sekarang, gue gamau bahas hehehe.

Mungkin inilah tugas kami generasi muda untuk terus belajar dan bersatu dengan pemikiran yang jernih demi kemajuan dan perubahan bangsa kita. Seperti yang dosen gue bilang "Mahasiswa itu bukan mencari pekerjaan, tapi menciptakan lapangan pekerjaan", yup gue setuju.. gue juga ingin mensejahterakan saudara-saudara kita yang memang tidak mampu dalam beberapa hal, tapi kita bisa belajar bersama.

Sudah saatnya pemikiran bermain-main ditempatkan pada waktunya dan buatlah waktu belajar ada tidak seperti biasanya.

Semoga tulisan kali ini bisa memotivasi para pembaca, dan menumbuhkan semangat perubahan demi mengapuskan kesedihan ibu pertiwi dan membuat sayap garuda kembali kokoh di mata dunia. :)