"Setelah ibu, ibu, ibu, ibu lalu ayah..."
Ada
alasan dibalik kenapa saya ingin menuliskan sesuatu tentang ibu. Ada
kekuatan yang lain yang menarik tangan ini untuk menumpahkan sosok
keajaiban tuhan.
Dari semua ciptaan tuhan di muka bumi, hanya
satu yang menurut saya tiada bandingannya dibandingkan dengan
ciptaan(nya) yang lain...dialah ibu.
Bayangkan...
hanya beliau yang tulus ikhlas membawa beban selama 9 bulan.
hanya beliau yang rela mempertaruhkan nyawa demi menyelamatkan apa yang ia jaga selama 9 bulan.
hanya beliau yang mampu terjaga dikala siang dan malam mengawasi kita agar tidak kekurangan sedikitpun.
hanya beliau yang mampu kuat untuk berpura-pura tegar didepan anak-anak dan suaminya.
masih
banyak hal lain yang tanpa kita sadari bahwa beliau adalah sosok
sempurna yang seharusnya kita hormati, kita jaga, dan membalas segala
kebaikannya.
Sudah pernah kalian disadarkan oleh sebuah
keadaan dimana segala sesuatu yang kita tuntut kepada orang tua ternyata
hanyalah sia-sia?
Semua keinginan yang terpenuhi selalu kita
balas hanya dengan ucapan "terima kasih" tanpa memikirkan apa yang
beliau lakukan untuk mendapatkan apa yang kita inginkan. Iya, orang tua
hanya menginginkan kita bahagia tanpa menderita sedikitpun.
Banyak
hal yang belum kita sadari tentang balas budi kepada orang tua. Coba
kalau kita ternyata menyadari, mungkin tidak ada kasus anak melaporkan
ibu kandungnya ke kantor polisi, atau mungkin tidak ada orang tua
membunuh anak maupun sebaliknya.
Aku juga bukan orang yang taat akan itu, tapi beruntungnya aku disadarkan oleh beberapa keadaan..
Kembali
kepada kodratnya seorang wanita, semuanya pasti akan menjadi seorang
ibu. Semuanya pasti menginginkan sebuah hubungan harmonis dalam
keluarga, memberikan seluruh kasih sayang kepada anak-anak dan suami.
Mengabdi dan mencari pahala dengan cara yang sewajarnya.
Tapi
tidak dipungkiri ada dari beberapa wanita yang tidak bisa berbanding
lurus dengan harapan dan cita-citanya. Bisa jadilah karena sesuatu
seorang wanita menjadi tulang punggung keluarga tanpa hadirnya suami.
Menjadi sosok yang kuat dikala raga lemah..
Menjadi sosok yang ceria dikala keadaan hati kacau..
Dan beliau bisa menjadi apapun demi sesuatu yang bisa membuat keluarganya bahagia.
Aku
memang bukan orang yang sempurna, ada kalanya dimana aku bisa
meninggikan suara didepan sosok mulia ciptaan tuhan. Ada kalanya aku
selalu menuntut sesuatu tanpa peduli bagaimana caranya beliau
mewujudkannya.
Tapi akhir-akhir ini aku sadar..
Aku
duduk di bangku kuliah, bukan karena seperti mereka yang berduit cukup.
Aku selalu menganggap aku adalah salah satu orang beruntung yang bisa
kuliah. Aku hanyalah seorang anak pegawai BUMN yang banting tulang agar
anak satu-satunya menjadi sarjana.
Aku selalu mendapat yang
aku mau lagi-lagi bukan karena ayahku meninggalkan warisan, tapi karena
sosok mamah yang selalu ingin membuat aku tersenyum dan tak kalah dengan
orang lain.
Ada satu pukulan dimana kemarin menjelang UTS...
"mah, ternyata aku belom bisa cetak jadwal. DPP belum lunas.."
"tunggu ya, mudah-mudahan hari ini dapet pinjeman dari koperasi untuk lunasin kekurangannya.."
Apa
pernah kalian terenyuh kalau tiba-tiba orang tua kalian sendiri yang
menyampaikan hal itu lewat telepon dengan nada suara kaget dan
ngos-ngosan?
"mah, aku ikut advokasi aja ya...supaya gak usah dilunasin sekarang"
"udah tunggu aja, ini mamah lagi usaha dapet buat lunasin kekurangannya.."
Coba kalian ulang kata "lagi usaha"..apa pernah kita yang merasakan itu? apa pernah kita yang berusaha untuk membantu?
"gak usah maksain dapet, gak lunas sekarang pun masih ada cara lain supaya ikut ujian.."
"udah doain aja mudah-mudahan dapet.."
Apa
pernah kita tanpa diminta selalu sadar untuk mendoakan beliau sepanjang
waktu. Dikala sibuk kita, dikala susah kita, bahkan yang
tersulit..disaat senang kita.
Dari sini aku sadar..apa yang
aku tuntut selama ini, apa yang aku minta ini dan itu, apa yang aku
dapatkan ternyata perlu perjuangan yang ada rasa kerelaan untuk
berkorban.
Lagi-lagi, aku hanyalah orang beruntung...
Banyak orang yang mengatakan bahwa :
"arti..kamu itu mau seneng mau sedih ekspresinya sama..ceria"
Ternyata
kekuatan yang seperti ini juga baru aku sadari karena mamah..dialah
wanita terkuat yang mampun menyembunyikan perasaan sedihnya didepan
orang banyak.
Ternyata dibalik sukanya, ada luka
Tuhan
itu baik, tuhan itu selalu menunjukkan dan menyadarkan kita apa yang
benar dan apa yang salah. Apa yang pantas dan apa yang tidak. Termasuk
cerita tadi diatas, ia menyadarkan bahwa sekarang sudah bukan saatnya
lagi untuk aku meminta...
Senin, 01 April 2013
Langganan:
Posting Komentar (Atom)



0 komentar:
Posting Komentar