Telinga bisa mendengar
Mulut bisa berkata
Tapi hati...bisa merasakan "
Kalau mata ini diperuntukkan untuk melihat apapun yang ada di bumi ini, hanya satu yang tidak ingin aku lihat, ia adalah kekecewaan
Ketika telinga ditakdirkan untuk mendengar segala jenis bunyi di bumi, ada satu yang tidak ingin aku dengar, ialah kabar sedih dan terburuk
Tuhan memberikan sebuah mulut untuk berkata, rasanya hanya kata-kata menyakitkan dan kemunafikan yang tidak ingin terucap
Dan tuhan memberikan hati kepada setiap umatnya, tapi satu yang aku benci dari semuanya...yaitu merasakan hal yang menyakitkan
Kata demi kata yang di ketik hasil dari penyaringan kata-kata yang berasal dari hati merangkak naik ke otak. Jika tangan ini mengikuti kata hati entah apa jadinya, tapi beruntung otakku masih bisa berfikir untuk menata sedemikian rupa agar tidak ada perasaan yang tersakiti dengan kata demi kata.
Gema suara adzan isya yang mengingatkan bahwa hari ini akan segera berakhir, malam semakin dingin dan gelap memeluk segala.
Aku baru ingat bahwa ini kali pertama lagi setelah hmmm...iya bisa dibilang beberapa bulan tidak menulis yang ternyata efeknya buruk.
Oke, kataku tadi adalah buruk...iya, dulu selagi aku masih rajin menulis rasanya hati ini lebih lapang, lebih enjoy, dan menyenangkan. Mungkin aku adalah termasuk salah satu orang yang lebih sering memendam perasaan sendiri, apapun yang terjadi aku hanya bisa satu "Diam". Ternyata diam tidak selamanya emas kawan, sedikit demi sedikit migrain yang aku punya sering kali muncul, bahkan jam tidurku semakin berantakan dan membuat kondisi tubuh agak terganggu.
Sekarang aku tahu, aku adalah seseorang yang tidak pandai menceritakan sebuah hal. Ketika aku meluapkan sesuatu tidak dalam tulisan, rasanya banyak hal yang tertinggal, ucapanku semakin berantakan tak beraturan. Sedangkan ketika aku menulis jari-jari ini rasanya seperti pedal yang terus melaju tanpa henti mengetik kata demi kata.
Ketika mataku bisa menangkap semua kejadian, telingaku yang banyak mendengar dan ketika mulutku yang seharusnya bisa berkata tapi hanya satu yang paling menjadi beban. Ialah hati ini yang terkadang terlalu perasa terhadap semua hal.
Semua hal yang sebetulnya tidak bertujuan kepadaku kadang aku rasakan seperti beban yang tiba-tiba hampir dihati dan dipikiranku. Selalu bertanya-tanya salahku apa, salahku dimana, kesalahan seperti apa, dan masih masih masih banyak lagi pertanyaan.
Entah terlalu perasa atau terlalu peka atau apalah itu namanya akupun muak, selalu merasa terbodoh dan terlalu bodoh di waktu yang tidak tepat, selalu merasa menyedihkan saat keadaan sebetulnya baik-baik saja, selalu menangis dan menangis saat tidak ada jawaban atas apa yang dirasakan, iya terkadang aku muak dengan diriku sendiri.
Tapi sayang, ini aku bukan orang lain. Orang lain tidak bisa menjadi aku dan aku tidak bisa menjadi orang lain. Aku apa adanya bukan ada apanya, aku yang tulus bukan aku yang bermuka dua untuk mencari simpati, aku yang cengeng ketika hati ini sudah muak menahan beban dan merasa bersalah.
Apa yang aku lakukan hari ini, karena aku ingin membuktikan pada orang-orang yang aku sayang bahwa aku mampu membuat mereka tersenyum suatu saat terlepas dari semua hal buruk yang menyangkut denganku. Lepaskan semua keraguan karena aku sungguh-sungguh dan tulus menyangi orang-orang yang mau dengan tulus juga menyayangiku.
Ketika aku meluapkan ini, mungkin aku sedang menahan sesuatu yang mengganjal. Aku hanya butuh pembuktian ketulusan terhadapku. Mungkin aku curhat, kalau tidak suka dengan tulisan ini ya...no problem.


